Di tengah sibuknya kendaraan berlalu lalang di pusat Kota Surabaya, Jawa Timur, Arif Andriyanto (58) selalu merasa tenang di bawah pohon beringin. Pohon beringin yang rimbun membuat area Arca Joko Dolog menjadi teduh meski cuaca di Surabaya sedang panas.
Lokasinya tepat berada di belakang Taman Apsari. Salah satu juru kunci, Arif Andriyanto, atau akrab disapa Romo Arif, hampir 24 jam menghabiskan waktu di tempat itu untuk menjaga cagar budaya.
Sejak pagi, ia menyapu dan membersihkan area Arca Joko Dolog. Lalu, ia mengganti beberapa sarana sesembahan. Tak lupa, ia juga melakukan sembahyang untuk Tuhan Yang Maha Esa.
“Kita harus benar-benar menjaga, ada pula ritual, terutama saya sendiri di sini sudah saya buat menjadi tempat ibadah saya, Jawa kuno untuk memuja Yang Maha Esa,” kata Arif, Minggu (16/11/2025). Baca juga: 3 Arca Mataram Kuno Pernah Ditemukan di Sekitar Arca Agastya Sleman Arif sudah 10 tahun dipercaya menjaga cagar budaya ini oleh pemerintah dan leluhur.
Setelah terbit Surat Keputusan (SK) dari Pemkot Surabaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, setiap bulannya ia menerima gaji. “Kalau dapat SK barusan saja dari Dinas Pariwisata Januari 2025. Saya diminta menjaga warisan leluhur bangsa kita ini dan juga menerima tamu dari lokal dan asing,” ujarnya.
Ibarat honorer Ia menyebut, statusnya seperti honorer dengan gaji sekitar Rp 750.000 per bulan. Namun, yang penting bukan sekadar nominal, tetapi tanggung jawab menjaga warisan leluhur.
“Sejenis honorer. Kalau gaji di bawah standar sekali, tapi cukup karena yang saya pikirkan bukan itu, tetapi tanggung jawab kepada leluhur untuk merawat warisan,” ujar Arif.
Ia memiliki tanggung jawab untuk memberikan pemahaman soal sejarah Arca Joko Dolog kepada semua kalangan agar generasi mendatang dapat mengenal dan ikut melestarikan.
“Supaya regenerasi mendatang saya bisa menjelaskan ini karya siapa, perwujudan siapa, saya jelaskan. Anak muda dari SD sampai mahasiswa, kita perjelas lagi,” tuturnya.
Mantan musisi Saat masih muda, Arif bekerja sebagai musisi yang tampil dari hotel satu ke hotel lainnya di wilayah Bali. Arif tak merasa kesulitan saat menjelaskan sejarah Arca Joko Dolog kepada wisatawan asing karena cukup mahir berbahasa Inggris.
“Banyak tamunya dari Brasil, Australia, Argentina, Spanyol, Amerika, China, banyak sekali. Lokalnya justru jarang sekali yang kesini,tuturnya.
Arif menceritakan, belasan tahun lalu, ia melakukan sembahyang di berbagai tempat, seperti gunung dan laut untuk mencari jati diri.
Lalu, ia menemukan tempat Arca Joko Dolog yang membuatnya menetap. Dari situlah, juru kunci Handoko mengenal dan mempercayainya untuk ikut menjaga serta melestarikan warisan budaya yang ada di Kota Surabaya ini.
“Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah di sini. Di perjalanan waktu itulah, leluhur mungkin mengetuk hati pemerintah untuk memilih saya ditugaskan di sini menjadi juru kunci pemelihara,” tuturnya.
Ia juga percaya bahwa kepercayaan menjadi juru kunci Arca Joko Dolog juga ada campur tangan dari leluhur.
Menjaga situs warisan tidak dapat dilakukan oleh semua orang. “Pokoknya, juru kunci di sini bukan berarti pilihan manusia, tetapi juga campur tangan leluhur. Kalau salah orang, kena dendam semesta, soalnya tidak bisa main-main,” kata dia. Ia pasrah kepada leluhur dalam mengemban tugas menjaga warisan dan bertanggung jawab melestarikan serta memperkenalkan kepada generasi ke depan. “Saya pasrah dengan leluhur. Kalau leluhur masih percaya untuk saya menjaga di sini, saya akan jaga dan mengembangkan tradisi budaya warisan leluhur Tanah Jawa,” kata Arif.